1. NAMA : SAID RASUL
NIM : 411106180
UNIT : I
Internet sebagai Medium Jurnalistik
Marshall
McLuhan (1999 : 7) dalam bukunya, Understanding Media – The Extensions of Man
menyatakan bahwa, the medium is the message. Bahwa medium yang dipakai untuk
menyampaikan informasi dan pesan, membentuk format pesan itu sendiri. McLuhan
menganggap media sebagai perluasan manusia. Media yang berbeda-beda mewakili
pesan yang berbeda-beda. Media menciptakan dan mempengaruhi cakupan serta
bentuk dari hubungan-hubungan dan kegiatankegiatan manusia. Pengaruh media
dengan adanya kemajuan teknologi menjadi sangat dahsyat bagi umat manusia.
Media telah campur tangan dalam kehidupan manusia secara lebih cepat daripada
sebelumnya, juga memperpendek jarak diantara bangsa-bangsa.
Media
massa apapun bentuknya akan selalu membawa pesan tersendiri bagi masyarakatnya.
Munculnya perdebatan yang problematik atas internet sebagai medium apakah
sebagai media massa atau media komunikasi antarpersona lebih disebabkan oleh
sifat internet itu sendiri, yang bisa diklasifikasikan ke dalam media massa
atau media konvensional yang individual dan antarpersona. Internet bisa
dikatakan sebagai sebuah hybrid (perkawinan) yang mana keduanya mampu bekerja
sebagai perangkat CD player dan televisi. Internet juga sebagai medium
komunikasi antarpersona, contohnya e-mail. Jensen (1998 : 46) memisahkan
berbagai macam media, yang kemudian disebut media “pull” dan “push”. Media
tradisional, seperti TV, radio, dan film, mempunyai karakteristik “push”,
dimana isi media diciptakan oleh medianya untuk pembaca, pendengar dan
pemirsanya. Sedangkan dalam “pull” media (internet) isinya diciptakan oleh
pengguna. Audience perannya lebih aktif ketika surfing on the net daripada
ketika surfing saluran TV. Isi media bergeser dari seragam ke personal, dan
siklus publikasi berkembang dari periodik menuju up to date. Munculnya medium
baru internet, yang salah satu fasilitasnya populer dengan nama World Wide Web
(WWW) era 1990-an, menandakan babak baru dalam system komunikasi global. Sistem
komunikasi tanpa batas. Melampaui batas-batas fisik geografis, mental ideologis,
ruang dan waktu. Komputer yang sebelumnya sebagai medium pengumpulan dan
penyimpanan, berkembang menjadi media komunikasi dan jaringan komunikasi yang
kompleks dengan segala struktur operasionalnya.
Dengan
membawa konsekuensi-konsekuensi tersendiri bagi relasi pribadi dan sosial.
Sehingga pada akhirnya Internet membawa bentuk budaya media. Dalam Internet,
interaksi antara orang-orang dimediasi oleh komputer, dan ditentukan oleh alat
teknologi yang dipergunakan. Interaksi komunikasi yang terjadi bukanlah sesuatu
yang lahir secara natural. Melainkan hasil adanya konstruksi teknologi.[1]
Jurnalistik sebagai kegiatan
melaporkan berbagai kejadian atau peristiwa yang terjadi di masyarakat, tidak
lepas dari konstruksi dengan perspektif tertentu untuk dijadikan bahan berita
oleh jurnalis. Sementara berita adalah laporan atau pemberitahuan tentang
sesuatu kejadian atau peristiwa yang disampaikan melalui orang lain, baik
secara lisan maupun tertulis (Peter dan Salim, 1991). Dalam konteks ini,
pengertian berita (news) yang dimaksud adalah penyajian informasi yang sudah,
sedang dan akan terjadi. Secara umum media mempunyai tujuan agar khalayaknya
mempelajari peristiwa, tetapi media tidak berusaha mengajar orang-orang tentang
hal-hal yang ada dalam berita. (McQuail: 1987; 246) Pertanyaan yang menarik
adalah seberapa jauh orang memahami dan mengingat berita?. Ini lah yang menarik
dalam teori difusi berita, yaitu penyebaran berita yang diukur berdasarkan
kemampuan mengingat peristiwa tertentu. Variabel penting yang menjadi pusat
perhatiannya adalah; sejauh mana orang-orang mengenal peristiwa tertentu; kadar
penting atau kemenonjolan yang relatif dari peristiwa bersangkutan; volume
informasi yang disampaikan tentang peristiwa itu; sejauh mana informasi tentang
suatu peristiwa diperoleh pertama kali dari berita; seberapa cepat media
memberikan dan menyebarkan informasi. (McQuail: 1987; 246). Impelmentasi teori
tsb, penulis mencoba melihat kondisi saat ini dimana perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi, mengakibatkan adanya tuntutan perubahan bentuk
berita, dari pers cetak dan broadcast menjadi bentuk berita online (e-News).
Berita dalam media online berkembang sangat pesat, tidak saja dalam bentuk teks
tetapi juga dalam bentuk multimedia, yaitu menggabungkan teks, audio dan video
yang bisa diakses kapan pun dan di mana pun manusia berada. Sehingga menurut
Fidler (1997) multimedia sering disebutnya sebagai mixed media. Sementara media
konvensional (tv, radio, media cetak) yang telah melakukan sinergi dengan
Internet
di era konvergensi7 media mampu meningkatkan value added dan brand yang semakin
kuat dan luas. Ukuran audience proximity secara geografis yang menjadi
keunggulan (media cetak, radio, tv lokal) selama ini menjadi semakin absurd
pada media online. Melalui webcasting dalam media online mampu mendekatkan
secara emosional seseorang terhadap daerah asal atau kelahirannya, seperti
seorang yang sedang berada di luar negeri karena studi, bekerja, atau telah
menjadi warga negara asing.[2]
2. Hypertext Dalam Jurnalistik Online
Menurut Lister ( 2003 : 23),
kata ‘hype’ dalam hypertext adalah sebuah kata kunci yang merujuk kepada
inovasi dari media baru (new media) dan yang membedakan dari ‘old analogue
media’. Sedangkan awalan ‘hyper’ dikembangkan dari bahasa Yunani yang artinya di
atas (above), di seberang (beyond), atau di luar (outside). Jadi berdasarkan
asal katanya, maka hypertext hadir untuk menjelaskan sebuah teks yang memberikan
sebuah sistem hubungan kepada teks lain yang berada ‘di luar’, ‘di atas’, dan
‘di seberang’ teks itu sendiri.
Roland
Barthes menggambarkan sebuah teks ideal yang sesuai dengan jaman, karena adanya
perkembangan teknologi khusunya komputer, adalah dengan hypertext yaitu teks
tersusun atas kata dan gambar yang terhubung (linked) secara elektronik dengan
banyak bagian/folder (paths). Dimana kemudian disebut lexia, sebuah elektronik
links yang saling berhubungan. Terms (hypertext) ini kemudian disebut link,
node, network, web, dan path. Sama dengan Barthes, Michel Foucault juga
mempunyai pendapat atas teks dalam terms network (jaringan) dan links. Sehingga
kemudian, melahirkan apa yang disebutnya hypermedia sebagai kepanjangan atas
teks dalam hypertext yang di dalamnya terdapat informasi visual, suara,
animasi, dan bentuk-bentuk data lainnya. Sejak keberhasilan hypertext mampu menghubungkan
teks seperti gambar, peta, diagram, dan suara semudah menyampaikan pesan verbal
lainnya, hypertext kemudian menjadi hypermedia.
Hypertext
menjadi medium informasi yang menghubungkan pesan verbal dan non verbal. Antara
hypertext dan hypermedia mampu bertukar peran (Landow, George, The Definition
of Hypertext and Its History as a Concept) Internet, sebagai sebuah jaringan
komputer global, merupakan suatu teknologi yang memicu perkembangan berita
elektronik (E-News). Teknologi internet memungkinkan berita (News)
dipublikasikan dengan menggunakan format Hypertext MarkUp Language (HTML) 8.
Dimana, format berita (teks, gambar/foto, video, audio, animasi) disajikan
secara digital, sehingga pembaca dapat mengakses dari computer dengan cepat dan
seketika pada halaman web (web pages). Jarak dan waktu bukan lagi kendala.
Karenanya, internet sebagai medium jurnalistik memiliki banyak kelebihan
dibandingkan media massa lain. Mudah mengaksesnya, memproduksi dan menyebarkan
dengan cepat dan murah dengan daya jangkau dunia. Seperti produk dan layanan
yang sudah dikembangkan BBC (bbc.co.uk) antara lain news feed9, podcasts10,
deskstop alert11, berita pada mobile phones, Portable Digital Assistant (PDA),
serta perangkat mobile lainnya.
Sebuah
dokumen bisa merupakan informasi. Sebuah artikel di surat-kabar adalah dokumen
(dokumen cetak), demikian halnya dengan paket acara TV, sebuah lagu atau video juga merupakan dokumen
(dokumen elektronik). Jadi bagi seorang reporter dalam era digital akan
dihadapkan pada terminologi baru yang berubah yaitu dokumen. Ketika reporter
dan editor membuat sebuah dokumen news untuk masing-masing media dimana mereka
bekerja, mungkin mereka juga akan berpikir format dokumen yang sesuai, entah
itu cetak atau elektronik. Dokumen elektronik yang nota bene berisi informasi
dapat diubah dari format analog ke format digital.
Teknologi
internet memungkinkan hal ini. Dimana, dengan format digital dokumen dapat
diakses lewat internet, termasuk gambar/ foto, audio, video, instruksi
pemrograman web interaktif, dan animasi. Yang semua ini bisa diakses lewat
browser internet. Jadi kesimpulannya hypertext bisa dikatakan sebagai
jantungnya online news. Perkembangan online news akan memaksa reporter media
cetak mengadopsi gaya broadcast, dimana dalam dunia broadcast seorang reporter
menulis untuk video, still images dan suara. Sehingga pemirsa bisa mendengar
dari radio maupun melihat dari layar kaca televisi. Kata dalam broadcast mampu
melengkapi teka-teki informasi dalam benak pikiran pemirsa atau pendengar.
Reporter media cetak sebaliknya, harus menggunakan bahasa agar pesannya sampai
pada benak pikiran pembacanya seperti apa yang dilihat dilayar televisi.
Karenanya, seorang reporter media cetak mencoba membuat sebuah “layar” dalam
benak pikiran pembacanya, dengan membangun daya ingat dan imajinasi pembaca.[3]
Seperti
halnya dengan reporter broadcast tersebut, reporter untuk media web juga telah
menambahkan teks elektronik (e-texts) dalam cara kerja mereka. Teks elektronik
termasuk didalamnya video dan still images, animasi, suara, dan tentu saja
kata. Karenanya, tantangan sebagai reporter media web adalah mampu memberikan
perspektif baru agar berita menjadi benar-benar kredibel dan bisa dipercaya
masyarakat. Sehingga persepsi masyarakat yang masih menganggap berita dari
media web sebagai sumber berita komplementer dapat diubah dengan menerapkan
kinerja profesional, sebagai sumber berita cepat dan seketika.
Fasilitas
radio on demand merupakan dokumentasi audio clip dengan durasi tertentu, video
on demand merupakan visual clip berita hasil liputan reporter. Video on demand
biasanya berupa file movie/ film yang bisa diakses oleh netter kapan saja yang
tampilannya berupa gambar bergerak dengan disertai audio yang langsung diambil
dari tempat kejadian. Pada saat download video on demand durasi waktu yang
dibutuhkan antara satu sampai dengan dua menit, dengan besar file berkisar
antara 500 – 1000 kilobyte. Termasuk Wireless Application Protocol (WAP) yang
merupakan fasilitas aplikasi nirkabel yang memungkinkan pendengar untuk selalu
mendapatkan informasi yang diinginkan dimana pun dan kapan pun kita berada
melalui telepon genggam (telepon selular/ ponsel).
3. Fleksibilitas, Kapasitas, Immediacy, dan Permanen
Esensi
dari Worl Wide Web dalam penjelasan sebelumnya adalah berita, dimana pembaca
membacanya melalui sebuah browser. Menurut James Glen Stovall (2004) pada
online journalism dikenal dimensi fleksibilitas, kapasitas, immediacy dan
pemanen. Para reporter dapat memasukan laporan berita mereka dengan berbagai
bentuk untuk informasinya, baik secara full text, disertai informasi biografi
sumber, diagram, peta, dan gambar yang dapat membantu pembaca mengerti subyek
pemberitaannya. Bahkan dapat memasukan audio dari sumber dan video scenes dimana
berita diambil. Inilah fleksibilitas media internet dari pada cetak atau
penyiaran. Namun, dalam online journalism juga terdapat batasan yang terletak
pada komputer server secara kuota atau ruang data dimana informasi tersebut
disimpan dan lamanya waktu akses . Inilah yang disebut sebagai batasan
kapasitas.
Online
journalism dapat mengirim berita secara seketika dan serentak (instantaneous
reporting) dalam bentuk breaking news event sesuai konteksnya dengan cakupan
coverage yang global. Sesuatu yang dirasa sulit bagi para broadcaster untuk
memberikan informasi berita breaking news mereka. Inilah yang disebut sebagai
immediacy. Sedangkan, online journalism disebut permanen karena para reporter
bekerja berjam-jam untuk sebuah dokumen berita secara digital yang dapat
disimpan dalam sebuah server komputer dalam waktu lama dan terjaga kualitasnya.
Berbeda
dengan surat kabar yang mediumnya kertas akan mudah pudar dan sobek, demikian
juga medium videotape dan audiotape kualitasnya akan menurun seiring waktu yang
terus bergulir. Informasi yang tersimpan online kualitasnya begitu powerfull,
mudah ditelusur ulang (retrievability) namun juga rawan diduplikasi. Karena the
web adalah sebuah medium terbuka dan sarat teknologi secara berjaringan,
sehingga mudah diduplikasi dan disimpan dalam lokasi yang berbeda dari aslinya.
4. Interaktifitas dalam media online
Semua
media tentunya interaktif. Pemirsa televisi dan pendengar radio harus
menyalakan pesawatnya dan memilih gelombang dan salurannya (channel). Dengan
remote control memberikan pengguna bebas untuk memilih channel. Tetapi media
ini tidak menawarkan kesempatan untuk berinteraksi.
Media
televisi dan radio tidak mempunyai pilihan dan mekanisme feedback ketika
programnya disiarkan. Kecuali adanya kontribusi medium e-mail dan telephone.
Sedangkan suratkabar dan majalah dinilai lebih interaktif karena pembaca dapat
memilih bagian apa yang lebih suka dibaca dan bagian mana yang diabaikan.
Headlines (teks yang mengarahkan pembaca kepada topik atau judul besar
liputan), layouts dan index mampu memberikan pembaca pilihan. Tetapi media
cetak tidak menawarkan melalui saluran apa pembaca dapat merespon apa yang
mereka lihat dan berinteraksi dengan reporter yang memproduksi berita. Kecuali
adanya kontribusi dari medium surat pembaca atau telephone.
Interaktivitas
dalam online journalism adalah adanya sebuah hubungan antara reporter dengan
pembacanya (consumer) dan hubungan yang bermakna dengan sebuah bentuk baru
jurnalistik. Menurut Williams, Rice, dan Rogers 1998 (dalam Severin and
Tankard, 2001: 370) mendefinisikan interaktifitas sebagai “the degree to which
participants in a communications process have control over, and can exchange
roles in, their mutual discourse”. Jadi kontrol komunikasi internet ada pada
pengguna.
Salah satu studi penggunaan
internet mendapatkan enam dimensi interaktifitas yaitu :
·
internet mampu
memberikan informasi dari pada sekedar persuasi
·
kontrol terletak pada
pengguna internet
·
aktifitas banyak
dilakukan oleh pengguna (aktif)
·
komunikasi yang terjadi
dua arah
·
waktu yang digunakan dalam
komunikasi lebih fleksibel dari pada terjadwal (periodisasi seperti dalam mediacetak)
·
komunikasi berlangsung
pada suatu tempat yang ‘diciptakan’ oleh para consumer (Rogers, 1998). Berikut
adalah analisis fitur-fitur yang ada dalam online media.[4]
KESIMPULAN
Dari
uraian dalam pembahasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan
jurnalistik online di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan situasi
politik di Indonesia dengan berbagai kebijakan rejim penguasa yang
menyertainya. Jurnalistik online periode pertama berkembang mulai 1995 – 1997
dengan ditandai hadirnya internet di Indonesia yang kemudian diterapkan dan
kembangkan oleh IPTEKNET, munculnya Internet Service Provider (ISP), web
service, fenomena mailing list apakabar yang cukup sensasional waktu itu, yaitu
runtuhnya Orde Baru oleh gerakan Reformasi (era reformasi), Tempo Interaktif
dan Kompas Cyber Media.
Periode
kedua mulai 1998 – 2001 ditandai fenomena dotcom dan bergugurannya dotcom,
pencabutan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) oleh Mentrei Penerangan
Yunus Yosfiah pada Kabinet Presiden Habibie yang menandakan era kebebasan pers
menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan jurnalisme online di Indonesia sudah
memasuki tahapan periode ketiga seperti apa yang digambarkan oleh pavlik
(1998), dimana isi berita telah didesain secara khusus untuk media web sebagai
sebuah medium komunikasi. Dalam periode ketiga, sejak 2002 sampai sekarang
adalah fenomena jurnalistik online multimedia atau webcasting dengan produk dan
layanan seperti news feed, podcasts, deskstop alert, berita pada mobile phones,
PDA ,serta perangkat mobile lainnya.
Hal
ini sebagai akibat perkembangan teknologi informasi dan jaringan
(infrastruktur) yang berimbas pada media, yang pada akhirnya menghasilkan
konvergensi media (sinergi), dengan tidak mengesampingkan akan adanya kebutuhan
akses kebebasan informasi yang cepat, seketika dan transparan, tidak dibatasi
ruang dan waktu serta adanya kepercayaan publik itu sendiri pada berita online
[1]
McLuhan, Marshall. (1999). Understanding Media; The Extension of Man. London :
Routledge.
[2]
Effendy, Onong Uchjana. (2005). Komunikasi dan Modernisasi, Bandung: Mandar
Maju
[3] Straubhaar,
Joseph dan Robert La Rose. (2002). Media Now: Communication Media in
the Information Age: Australia: Wadsworth
[4]
Muljono; Sistem Berita Elektronika di Intranet Universitas Pelita Harapan
Menggunakan Lotus Notes dan Domino, Jurnal Ilmiah
Universitas Pelita
Harapan, LPPM-UPH Menara UPH – Lippo Karawaci –
Tangerang.Vol. 4/No.7
Agustus 2001, Hal. 37.
No comments:
Post a Comment