Thursday, 1 May 2014

TUGAS 2 : JURNAL ILMIAH TENTANG PERKEMBANGAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI

1.     NAMA : SAID RASUL
          NIM       : 411106180
          UNIT     :  I 


         Internet sebagai Medium Jurnalistik
Marshall McLuhan (1999 : 7) dalam bukunya, Understanding Media – The Extensions of Man menyatakan bahwa, the medium is the message. Bahwa medium yang dipakai untuk menyampaikan informasi dan pesan, membentuk format pesan itu sendiri. McLuhan menganggap media sebagai perluasan manusia. Media yang berbeda-beda mewakili pesan yang berbeda-beda. Media menciptakan dan mempengaruhi cakupan serta bentuk dari hubungan-hubungan dan kegiatankegiatan manusia. Pengaruh media dengan adanya kemajuan teknologi menjadi sangat dahsyat bagi umat manusia. Media telah campur tangan dalam kehidupan manusia secara lebih cepat daripada sebelumnya, juga memperpendek jarak diantara bangsa-bangsa.
Media massa apapun bentuknya akan selalu membawa pesan tersendiri bagi masyarakatnya. Munculnya perdebatan yang problematik atas internet sebagai medium apakah sebagai media massa atau media komunikasi antarpersona lebih disebabkan oleh sifat internet itu sendiri, yang bisa diklasifikasikan ke dalam media massa atau media konvensional yang individual dan antarpersona. Internet bisa dikatakan sebagai sebuah hybrid (perkawinan) yang mana keduanya mampu bekerja sebagai perangkat CD player dan televisi. Internet juga sebagai medium komunikasi antarpersona, contohnya e-mail. Jensen (1998 : 46) memisahkan berbagai macam media, yang kemudian disebut media “pull” dan “push”. Media tradisional, seperti TV, radio, dan film, mempunyai karakteristik “push”, dimana isi media diciptakan oleh medianya untuk pembaca, pendengar dan pemirsanya. Sedangkan dalam “pull” media (internet) isinya diciptakan oleh pengguna. Audience perannya lebih aktif ketika surfing on the net daripada ketika surfing saluran TV. Isi media bergeser dari seragam ke personal, dan siklus publikasi berkembang dari periodik menuju up to date. Munculnya medium baru internet, yang salah satu fasilitasnya populer dengan nama World Wide Web (WWW) era 1990-an, menandakan babak baru dalam system komunikasi global. Sistem komunikasi tanpa batas. Melampaui batas-batas fisik geografis, mental ideologis, ruang dan waktu. Komputer yang sebelumnya sebagai medium pengumpulan dan penyimpanan, berkembang menjadi media komunikasi dan jaringan komunikasi yang kompleks dengan segala struktur operasionalnya.
Dengan membawa konsekuensi-konsekuensi tersendiri bagi relasi pribadi dan sosial. Sehingga pada akhirnya Internet membawa bentuk budaya media. Dalam Internet, interaksi antara orang-orang dimediasi oleh komputer, dan ditentukan oleh alat teknologi yang dipergunakan. Interaksi komunikasi yang terjadi bukanlah sesuatu yang lahir secara natural. Melainkan hasil adanya konstruksi teknologi.[1]
Jurnalistik sebagai kegiatan melaporkan berbagai kejadian atau peristiwa yang terjadi di masyarakat, tidak lepas dari konstruksi dengan perspektif tertentu untuk dijadikan bahan berita oleh jurnalis. Sementara berita adalah laporan atau pemberitahuan tentang sesuatu kejadian atau peristiwa yang disampaikan melalui orang lain, baik secara lisan maupun tertulis (Peter dan Salim, 1991). Dalam konteks ini, pengertian berita (news) yang dimaksud adalah penyajian informasi yang sudah, sedang dan akan terjadi. Secara umum media mempunyai tujuan agar khalayaknya mempelajari peristiwa, tetapi media tidak berusaha mengajar orang-orang tentang hal-hal yang ada dalam berita. (McQuail: 1987; 246) Pertanyaan yang menarik adalah seberapa jauh orang memahami dan mengingat berita?. Ini lah yang menarik dalam teori difusi berita, yaitu penyebaran berita yang diukur berdasarkan kemampuan mengingat peristiwa tertentu. Variabel penting yang menjadi pusat perhatiannya adalah; sejauh mana orang-orang mengenal peristiwa tertentu; kadar penting atau kemenonjolan yang relatif dari peristiwa bersangkutan; volume informasi yang disampaikan tentang peristiwa itu; sejauh mana informasi tentang suatu peristiwa diperoleh pertama kali dari berita; seberapa cepat media memberikan dan menyebarkan informasi. (McQuail: 1987; 246). Impelmentasi teori tsb, penulis mencoba melihat kondisi saat ini dimana perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, mengakibatkan adanya tuntutan perubahan bentuk berita, dari pers cetak dan broadcast menjadi bentuk berita online (e-News). Berita dalam media online berkembang sangat pesat, tidak saja dalam bentuk teks tetapi juga dalam bentuk multimedia, yaitu menggabungkan teks, audio dan video yang bisa diakses kapan pun dan di mana pun manusia berada. Sehingga menurut Fidler (1997) multimedia sering disebutnya sebagai mixed media. Sementara media konvensional (tv, radio, media cetak) yang telah melakukan sinergi dengan
Internet di era konvergensi7 media mampu meningkatkan value added dan brand yang semakin kuat dan luas. Ukuran audience proximity secara geografis yang menjadi keunggulan (media cetak, radio, tv lokal) selama ini menjadi semakin absurd pada media online. Melalui webcasting dalam media online mampu mendekatkan secara emosional seseorang terhadap daerah asal atau kelahirannya, seperti seorang yang sedang berada di luar negeri karena studi, bekerja, atau telah menjadi warga negara asing.[2]

2.      Hypertext Dalam Jurnalistik Online
Menurut Lister ( 2003 : 23), kata ‘hype’ dalam hypertext adalah sebuah kata kunci yang merujuk kepada inovasi dari media baru (new media) dan yang membedakan dari ‘old analogue media’. Sedangkan awalan ‘hyper’ dikembangkan dari bahasa Yunani yang artinya di atas (above), di seberang (beyond), atau di luar (outside). Jadi berdasarkan asal katanya, maka hypertext hadir untuk menjelaskan sebuah teks yang memberikan sebuah sistem hubungan kepada teks lain yang berada ‘di luar’, ‘di atas’, dan ‘di seberang’ teks itu sendiri.
Roland Barthes menggambarkan sebuah teks ideal yang sesuai dengan jaman, karena adanya perkembangan teknologi khusunya komputer, adalah dengan hypertext yaitu teks tersusun atas kata dan gambar yang terhubung (linked) secara elektronik dengan banyak bagian/folder (paths). Dimana kemudian disebut lexia, sebuah elektronik links yang saling berhubungan. Terms (hypertext) ini kemudian disebut link, node, network, web, dan path. Sama dengan Barthes, Michel Foucault juga mempunyai pendapat atas teks dalam terms network (jaringan) dan links. Sehingga kemudian, melahirkan apa yang disebutnya hypermedia sebagai kepanjangan atas teks dalam hypertext yang di dalamnya terdapat informasi visual, suara, animasi, dan bentuk-bentuk data lainnya. Sejak keberhasilan hypertext mampu menghubungkan teks seperti gambar, peta, diagram, dan suara semudah menyampaikan pesan verbal lainnya, hypertext kemudian menjadi hypermedia.
Hypertext menjadi medium informasi yang menghubungkan pesan verbal dan non verbal. Antara hypertext dan hypermedia mampu bertukar peran (Landow, George, The Definition of Hypertext and Its History as a Concept) Internet, sebagai sebuah jaringan komputer global, merupakan suatu teknologi yang memicu perkembangan berita elektronik (E-News). Teknologi internet memungkinkan berita (News) dipublikasikan dengan menggunakan format Hypertext MarkUp Language (HTML) 8. Dimana, format berita (teks, gambar/foto, video, audio, animasi) disajikan secara digital, sehingga pembaca dapat mengakses dari computer dengan cepat dan seketika pada halaman web (web pages). Jarak dan waktu bukan lagi kendala. Karenanya, internet sebagai medium jurnalistik memiliki banyak kelebihan dibandingkan media massa lain. Mudah mengaksesnya, memproduksi dan menyebarkan dengan cepat dan murah dengan daya jangkau dunia. Seperti produk dan layanan yang sudah dikembangkan BBC (bbc.co.uk) antara lain news feed9, podcasts10, deskstop alert11, berita pada mobile phones, Portable Digital Assistant (PDA), serta perangkat mobile lainnya.
Sebuah dokumen bisa merupakan informasi. Sebuah artikel di surat-kabar adalah dokumen (dokumen cetak), demikian halnya dengan paket acara TV, sebuah  lagu atau video juga merupakan dokumen (dokumen elektronik). Jadi bagi seorang reporter dalam era digital akan dihadapkan pada terminologi baru yang berubah yaitu dokumen. Ketika reporter dan editor membuat sebuah dokumen news untuk masing-masing media dimana mereka bekerja, mungkin mereka juga akan berpikir format dokumen yang sesuai, entah itu cetak atau elektronik. Dokumen elektronik yang nota bene berisi informasi dapat diubah dari format analog ke format digital.
Teknologi internet memungkinkan hal ini. Dimana, dengan format digital dokumen dapat diakses lewat internet, termasuk gambar/ foto, audio, video, instruksi pemrograman web interaktif, dan animasi. Yang semua ini bisa diakses lewat browser internet. Jadi kesimpulannya hypertext bisa dikatakan sebagai jantungnya online news. Perkembangan online news akan memaksa reporter media cetak mengadopsi gaya broadcast, dimana dalam dunia broadcast seorang reporter menulis untuk video, still images dan suara. Sehingga pemirsa bisa mendengar dari radio maupun melihat dari layar kaca televisi. Kata dalam broadcast mampu melengkapi teka-teki informasi dalam benak pikiran pemirsa atau pendengar. Reporter media cetak sebaliknya, harus menggunakan bahasa agar pesannya sampai pada benak pikiran pembacanya seperti apa yang dilihat dilayar televisi. Karenanya, seorang reporter media cetak mencoba membuat sebuah “layar” dalam benak pikiran pembacanya, dengan membangun daya ingat dan imajinasi pembaca.[3]

Seperti halnya dengan reporter broadcast tersebut, reporter untuk media web juga telah menambahkan teks elektronik (e-texts) dalam cara kerja mereka. Teks elektronik termasuk didalamnya video dan still images, animasi, suara, dan tentu saja kata. Karenanya, tantangan sebagai reporter media web adalah mampu memberikan perspektif baru agar berita menjadi benar-benar kredibel dan bisa dipercaya masyarakat. Sehingga persepsi masyarakat yang masih menganggap berita dari media web sebagai sumber berita komplementer dapat diubah dengan menerapkan kinerja profesional, sebagai sumber berita cepat dan seketika.
Fasilitas radio on demand merupakan dokumentasi audio clip dengan durasi tertentu, video on demand merupakan visual clip berita hasil liputan reporter. Video on demand biasanya berupa file movie/ film yang bisa diakses oleh netter kapan saja yang tampilannya berupa gambar bergerak dengan disertai audio yang langsung diambil dari tempat kejadian. Pada saat download video on demand durasi waktu yang dibutuhkan antara satu sampai dengan dua menit, dengan besar file berkisar antara 500 – 1000 kilobyte. Termasuk Wireless Application Protocol (WAP) yang merupakan fasilitas aplikasi nirkabel yang memungkinkan pendengar untuk selalu mendapatkan informasi yang diinginkan dimana pun dan kapan pun kita berada melalui telepon genggam (telepon selular/ ponsel).

3.      Fleksibilitas, Kapasitas, Immediacy, dan Permanen
Esensi dari Worl Wide Web dalam penjelasan sebelumnya adalah berita, dimana pembaca membacanya melalui sebuah browser. Menurut James Glen Stovall (2004) pada online journalism dikenal dimensi fleksibilitas, kapasitas, immediacy dan pemanen. Para reporter dapat memasukan laporan berita mereka dengan berbagai bentuk untuk informasinya, baik secara full text, disertai informasi biografi sumber, diagram, peta, dan gambar yang dapat membantu pembaca mengerti subyek pemberitaannya. Bahkan dapat memasukan audio dari sumber dan video scenes dimana berita diambil. Inilah fleksibilitas media internet dari pada cetak atau penyiaran. Namun, dalam online journalism juga terdapat batasan yang terletak pada komputer server secara kuota atau ruang data dimana informasi tersebut disimpan dan lamanya waktu akses . Inilah yang disebut sebagai batasan kapasitas.
Online journalism dapat mengirim berita secara seketika dan serentak (instantaneous reporting) dalam bentuk breaking news event sesuai konteksnya dengan cakupan coverage yang global. Sesuatu yang dirasa sulit bagi para broadcaster untuk memberikan informasi berita breaking news mereka. Inilah yang disebut sebagai immediacy. Sedangkan, online journalism disebut permanen karena para reporter bekerja berjam-jam untuk sebuah dokumen berita secara digital yang dapat disimpan dalam sebuah server komputer dalam waktu lama dan terjaga kualitasnya.
Berbeda dengan surat kabar yang mediumnya kertas akan mudah pudar dan sobek, demikian juga medium videotape dan audiotape kualitasnya akan menurun seiring waktu yang terus bergulir. Informasi yang tersimpan online kualitasnya begitu powerfull, mudah ditelusur ulang (retrievability) namun juga rawan diduplikasi. Karena the web adalah sebuah medium terbuka dan sarat teknologi secara berjaringan, sehingga mudah diduplikasi dan disimpan dalam lokasi yang berbeda dari aslinya.

4.      Interaktifitas dalam media online
Semua media tentunya interaktif. Pemirsa televisi dan pendengar radio harus menyalakan pesawatnya dan memilih gelombang dan salurannya (channel). Dengan remote control memberikan pengguna bebas untuk memilih channel. Tetapi media ini tidak menawarkan kesempatan untuk berinteraksi.
Media televisi dan radio tidak mempunyai pilihan dan mekanisme feedback ketika programnya disiarkan. Kecuali adanya kontribusi medium e-mail dan telephone. Sedangkan suratkabar dan majalah dinilai lebih interaktif karena pembaca dapat memilih bagian apa yang lebih suka dibaca dan bagian mana yang diabaikan. Headlines (teks yang mengarahkan pembaca kepada topik atau judul besar liputan), layouts dan index mampu memberikan pembaca pilihan. Tetapi media cetak tidak menawarkan melalui saluran apa pembaca dapat merespon apa yang mereka lihat dan berinteraksi dengan reporter yang memproduksi berita. Kecuali adanya kontribusi dari medium surat pembaca atau telephone.
Interaktivitas dalam online journalism adalah adanya sebuah hubungan antara reporter dengan pembacanya (consumer) dan hubungan yang bermakna dengan sebuah bentuk baru jurnalistik. Menurut Williams, Rice, dan Rogers 1998 (dalam Severin and Tankard, 2001: 370) mendefinisikan interaktifitas sebagai “the degree to which participants in a communications process have control over, and can exchange roles in, their mutual discourse”. Jadi kontrol komunikasi internet ada pada pengguna.
Salah satu studi penggunaan internet mendapatkan enam dimensi interaktifitas yaitu :
·         internet mampu memberikan informasi dari pada sekedar persuasi
·         kontrol terletak pada pengguna internet
·         aktifitas banyak dilakukan oleh pengguna (aktif)
·         komunikasi yang terjadi dua arah
·         waktu yang digunakan dalam komunikasi lebih fleksibel dari pada terjadwal (periodisasi seperti dalam mediacetak)
·         komunikasi berlangsung pada suatu tempat yang ‘diciptakan’ oleh para consumer (Rogers, 1998). Berikut adalah analisis fitur-fitur yang ada dalam online media.[4]


KESIMPULAN
Dari uraian dalam pembahasan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa perkembangan jurnalistik online di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan situasi politik di Indonesia dengan berbagai kebijakan rejim penguasa yang menyertainya. Jurnalistik online periode pertama berkembang mulai 1995 – 1997 dengan ditandai hadirnya internet di Indonesia yang kemudian diterapkan dan kembangkan oleh IPTEKNET, munculnya Internet Service Provider (ISP), web service, fenomena mailing list apakabar yang cukup sensasional waktu itu, yaitu runtuhnya Orde Baru oleh gerakan Reformasi (era reformasi), Tempo Interaktif dan Kompas Cyber Media.
Periode kedua mulai 1998 – 2001 ditandai fenomena dotcom dan bergugurannya dotcom, pencabutan Surat Ijin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) oleh Mentrei Penerangan Yunus Yosfiah pada Kabinet Presiden Habibie yang menandakan era kebebasan pers menjadi lebih baik dari sebelumnya, dan jurnalisme online di Indonesia sudah memasuki tahapan periode ketiga seperti apa yang digambarkan oleh pavlik (1998), dimana isi berita telah didesain secara khusus untuk media web sebagai sebuah medium komunikasi. Dalam periode ketiga, sejak 2002 sampai sekarang adalah fenomena jurnalistik online multimedia atau webcasting dengan produk dan layanan seperti news feed, podcasts, deskstop alert, berita pada mobile phones, PDA ,serta perangkat mobile lainnya.
Hal ini sebagai akibat perkembangan teknologi informasi dan jaringan (infrastruktur) yang berimbas pada media, yang pada akhirnya menghasilkan konvergensi media (sinergi), dengan tidak mengesampingkan akan adanya kebutuhan akses kebebasan informasi yang cepat, seketika dan transparan, tidak dibatasi ruang dan waktu serta adanya kepercayaan publik itu sendiri pada berita online








[1] McLuhan, Marshall. (1999). Understanding Media; The Extension of Man. London :
Routledge.
[2] Effendy, Onong Uchjana. (2005). Komunikasi dan Modernisasi, Bandung: Mandar
Maju
[3] Straubhaar, Joseph dan Robert La Rose. (2002). Media Now: Communication Media in
the Information Age: Australia: Wadsworth
[4] Muljono; Sistem Berita Elektronika di Intranet Universitas Pelita Harapan
Menggunakan Lotus Notes dan Domino, Jurnal Ilmiah Universitas Pelita
Harapan, LPPM-UPH Menara UPH – Lippo Karawaci – Tangerang.Vol. 4/No.7
Agustus 2001, Hal. 37.

No comments:

Post a Comment