Judul Artikel Jurnal :
TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
INOVASI BAGI DUNIA PENDIDIKAN
Alamat Web/Link artikel jurnal :
http://insearch.unibi.ac.id/downexec.php?f=12021245659.pdf&fc=unibi.ac.id-Teknologi_informasi_dan_komunikasi_inovasi_bagi_dunia_pendidikan.pdf
Direview oleh : SAID RASUL (
411106180/UNIT I )
Jurnal ditulis Oleh: Hari Supriadi,
S.T.
PENDAHULUAN
Teknologi Informasi dan komunikasi
adalah salah satu bidang kajian yang beberapa tahun ke belakang mulai
berkembang di negara kita dan telah banyak diimplementasikan dalam berbagai
bidang. Teknologi Informasi sama dengan teknologi lainnya, dalam teknologi
informasi, informasi merupakan komoditas yang diolah dengan teknologi tersebut.
Bentuk dari teknologi adalah kumpulan pengetahuan (knowledge) yang
diimplementasikan dalam tumpukan kertas (stacked of papers), atau sekarang
berbentuk file - file dalam media penyimpan seperti disket, CD-ROM, flash disk
[PUSTEKKOM., 2006].
Sebagai salah satu teknologi unggulan
yang menentukan masa kini dan masa depan umat manusia, Teknologi Informasi (TI)
semakin penting untuk dikuasai pemahaman, pengetahuan, pemanfaatannya, serta
penciptaannya. Kaitannya yang erat dengan berbagai sektor : ekonomi,
pendidikan, dan sebagainya menempatkan TI sebagai komoditi strategi dalam
pembangunan sebuah negara. Malahan ada negara yang meluncurkan konsep
pembangunan nasionalnya yang bercirikan IT- led development, dimana TI bukan
hanya sebagai perangkat pendukung tetapi telah meningkat menjadi penggerak
utama mekanisme pembangunan seluruh sektor nasional disk [PUSTEKKOM., 2006]
Pesatnya perkembangan TI, khususnya
internet, memungkinkan pengembangan layanan informasi yang lebih baik dalam
dunia pendidikan. Dilingkungan pendidikan, pemanfaatan IT lainnya yaitu
diwujudkan dalam suatu sistem yang disebut E-Learning. Salah satu bentuk dari
E-Learning dengan menyediakan materi kuliah secara online dan materi kuliah
tersebut dapat diakses oleh siapa saja yang membutuhkan.
Hal ini merupakan salah satu faktor
yang mengharuskan pengembangan ICT dalam dunia pendidikan di Indonesia. Agar
kualitas sumber daya manusia Indonesia yang merupakan produk dari pendidikan
itu semakin baik dan dapat bersaing dalam dunia yang berbasiskan teknologi.
PEMBAHASAN
Teknologi informasi dan komunikasi
dalam dunia pendidikan
Secara umum Dunia Pendidikan memang
belum pernah benar-benar menjadi wacana yang publik di Indonesia. Upaya-upaya
peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan terus dilakukan oleh berbagai
pihak walaupun masih banyak yang harus dibenahi dalam berbagai aspek, terutama
dari segi proses belajar mengajar konvensional yang mengandalkan tatap muka
antara guru dan murid, dosen dengan mahasiswa, yang menjadi salah satu penyebab
terhambatnya arus informasi dan tidak seiring dengan perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi.
Pola Pengajaran Dengan Media
Perkembangan teknologi informasi dan
komunikasi (TIK) mempengaruhi pola pengajaran sehingga timbul kecenderungan
memanfaatkan teknologi untuk menyempurnakan fasilitas atau alat Bantu yang
digunakan dalam sistem pengajaran.
Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan
TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu:
1. Dari pelatihan ke penampilan
2. Dari ruang kelas ke di mana dan kapan
saja
3. Dari kertas ke “on line” atau saluran
4. Fasilitas fisik ke fasilitas jaringan
kerja
5. Dari waktu siklus ke waktu nyata
Komunikasi sebagai media pendidikan
dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer,
internet, e-mail, dsb. Guru dapat memberikan layanan tanpa harus
berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula siswa dapat
memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber
space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang
paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau
pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan
internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu
model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi
khususnya internet.
Menurut Rosenberg (2001; 28), e-learning merupakan satu
penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan
luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu:
1. e-learning merupakan jaringan dengan
kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar
atau informasi
2. pengiriman sampai ke pengguna terakhir
melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar
3. memfokuskan pada pandangan yang paling
luas tentang pembelajaran di
balik paradigma pembelajaran tradisional.
Satu bentuk produk TIK adalah internet
yang berkembang pesat di penghujung abad 20 dan di ambang abad 21. Kehadirannya
telah memberikan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan umat manusia dalam
berbagai aspek dan dimensi. Internet merupakan salah satu instrumen dalam era
globalisasi yang telah menjadikan dunia ini menjadi transparan dan terhubungkan
dengan sangat mudah dan cepat tanpa mengenal batas-batas kewilayahan atau
kebangsaan. Melalui internet setiap orang dapat mengakses ke dunia global untuk
memperoleh informasi dalam berbagai bidang dan pada glirannya akan memberikan
pengaruh dalam keseluruhan perilakunya. Dalam kurun waktu yang
amat cepat beberapa dasawarsa terakhir telah terjadi
revolusi internet di berbagai Negara serta penggunaannya dalam berbagai bidang
kehidupan. Keberadaan internet pada masa kini sudah merupakan satu kebutuhan
pokok manusia modern dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan global.
Kondisi ini sudah tentu akan memberikan dampak terhadap corak dan pola-pola
kehidupan umat manusia secara keseluruhan.
Dalam kaitan ini, setiap orang atau
bangsa yang ingin lestari dalam menghadapi tantangan global, perlu meningkatkan
kualitas dirinya untuk beradaptasi dengan tuntutan yang berkembang. TIK telah
mengubah wajah pembelajaran yang berbeda dengan proses pembelajaran tradisional
yang ditandai dengan interaksi tatap muka antara guru dengan siswa baik di kelas
maupun di luar kelas.
Di masa-masa mendatang, arus informasi akan makin meningkat
melalui jaringan internet yang bersifat global di seluruh dunia dan menuntut
siapapun untuk beradaptasi dengan kecenderungan itu kalau tidak mau ketinggalan
jaman. Dengan kondisi demikian maka pendidikan khususnya proses pembelajaran
cepat atau lambat tidak dapat terlepas dari keberadaan komputer dan internet
sebagai alat bantu utama.
Meskipun teknologi informasi komunikasi
dalam bentuk komputer dan internet telah terbukti banyak menunjang proses
pembelajaran anak secara lebih efektif dan produktif, namun di sisi lain masih
banyak kelemahan dan kekurangan. Dari sisi kegairahan kadang-kadang anak-anak
lebih bergairah dengan internetnya itu sendiri dibandingkan dengan materi yang
dipelajari. Dapat juga terjadi proses pembelajaran yang terlalu bersifat
individual sehingga mengurangi pembelajaran yang bersifat sosial. Dari aspek
informasi yang diperoleh, tidak terjamin adanya ketepatan informasi dari
internet sehingga sangat berbahaya kalau anak kurang memiliki sikap kritis
terhadap informasi
yang diperoleh. Bagi anak-anak sekolah dasar penggunaan
internet yang kurang proporsional dapat mengabaikan peningkatan kemampuan yang
bersifat manual seperti menulis tangan, menggambar, berhitung, dsb. Dalam
hubungan ini guru perlu memiliki kemampuan dalam mengelola kegiatan
pembelajaran secara proporsional dan demikian pula perlunya kerjasama yang baik
dengan orang tua untuk membimbing anak-anak belajar di rumah masing-masing.
Pergeseran pandangan tentang pembelajaran
Untuk
dapat memanfaatkan TIK dalam memperbaiki mutu pembelajaran, ada tiga hal yang
harus diwujudkan yaitu :
1. siswa dan guru harus memiliki akses
kepada teknologi digital dan internet dalam kelas, sekolah, dan lembaga
pendidikan guru
2. harus tersedia materi yang berkualitas,
bermakna, dan dukungan kultural bagi siswa dan guru
3. guru harus memilikio pengetahuan dan
ketrampilan dalam menggunakan
alat-alat
dan sumber-sumber digital untuk membantu siswa agar mencapai standar akademik.
Sejalan dengan pesatnya perkembangan TIK, maka telah terjadi pergeseran
pandangan tentang pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas.
Dalam
pandangan tradisional di masa lalu (dan masih ada pada masa sekarang), proses
pembelajaran dipandang sebagai:
·
sesuatu
yang sulit dan berat
·
upaya mengisi kekurangan siswa
·
satu
proses transfer dan penerimaan informasi
·
proses
individual atau soliter
·
kegiatan
yang dilakukan dengan menjabarkan materi pelajaran kepada satuan-satuan kecil
dan terisolasi
·
suatu
proses linear.
Hal itu telah menguban peran guru dan
siswa dalam pembelajaran. Peran guru telah berubah dari: sebagai penyampai
pengetahuan, sumber utama informasi, akhli materi, dan sumber segala jawaban,
menjadi sebagai fasilitator pembelajaran, pelatih, kolaborator, navigator
pengetahuan, dan mitra belajar;dan juga dari mengendalikan dan mengarahkan
semua aspek pembelajaran, menjadi lebih banyak memberikan lebih banyak
alternatif dan tanggung jawab kepada setiap siswa dalam proses pembelajaran. Sementara
itu peran siswa dalam pembelajaran telah mengalami perubahan yaitu: dari
penerima informasi yang pasif menjadi partisipan aktif dalam proses
pembelajaran, dari mengungkapkan kembali pengetahuan menjadi menghasilkan dan
berbagai pengetahuan, dari pembelajaran sebagai aktiivitas individual (soliter)
menjadi pembelajaran berkolaboratif dengan siswa lain.
Kreativitas dan kemandirian belajar
Dalam menghadapi tantangan kehidupan
modern di abad-21 ini kreativitas dan kemandirian sangat diperlukan untuk mampu
beradaptasi dengan berbagai tuntutan.
Kreativitas
sangat diperlukan dalam hidup ini dengan beberapa alasan antara lain:
1. kreativitas memberikan peluang bagi
individu untuk mengaktualisasikan dirinya
2. kreativitas memungkinkan orang dapat
menemukan berbagai alternative dalam pemecahan masalah
3. kreativitas dapat memberikan kepuasan
hidup
4. kreativitas memungkinkan manusia
meningkatkan kualitas hidupnya.
Dari segi kognitifnya, kreativitas
merupakan kemampuan berfikir yang memiliki kelancaran, keluwesan, keaslian, dan
perincian. Sedangkan dari segi afektifnya kreativitas ditandai dengan
motivasi yang kuat, rasa ingin tahu, tertarik dengan tugas majemuk, berani
menghadapi resiko, tidak mudah putus asa, menghargai keindahan, memiliki rasa
humor, selalu ingin mencari pengalaman baru, menghargai diri sendiri dan orang
lain, dsb.
Karya-karya kreatif ditandai dengan
orisinalitas, memiliki nilai, dapat ditransformasikan, dan dapat
dikondensasikan. Selanjutnya kemandirian sangat diperlukan dalam kehidupan yang
penuh tantangan ini sebab kemandirian merupakan kunci utama bagi individu untuk
mampu mengarahkan dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya. Kemandirian
didukung dengan kualitas pribadi yang ditandai dengan penguasaan kompetensi
tertentu, konsistensi terhadap pendiriannya, kreatif dalam berfikir dan
bertindak, mampu mengendalikan dirinya, dan memiliki komitmen yang kuat
terhadap berbagai hal.
Dengan memperhatikan ciri-ciri
kreativitas dan kemandirian tersebut, maka dapat dikatakan bahwa TIK memberikan
peluang untuk berkembangnya kreativitas dan kemandirian siswa. Pembelajaran
dengan dukungan TIK memungkinkan dapat menghasilkan karya-karya baru yang
orsinil, memiliki nilai yang tinggi, dan dapat dikembangkan lebih jauh untuk
kepentingan yang lebih bermakna. Melalui TIK siswa akan memperoleh berbagai
informasi dalam lingkup yang lebih luas dan mendalam sehingga meningkatkan
wawasannya. Hal ini merupakan rangsangan yang kondusif bagi berkembangnya
kemandirian anak terutama dalam hal pengembangan kompetensi, kreativitas, kendali
diri, konsistensi, dan komitmennya baik terhadap diri sendiri maupun terhadap
pihak lain.
Peran guru
Semua hal itu tidak akan terjadi dengan
sendirinya karena setiap siswa memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan
lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari orang tuanya
dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. Dalam kaitan ini guru
memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK dan yang
lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak secara
efektif. Peran guru sebagai pemberi informasi harus bergeser menjadi manajer
pembelajaran dengan sejumlah peran-peran tertentu, karena guru bukan
satu-satunya sumber informasi melainkan hanya salah satu pemberi informasi
. Dalam bukunya yang berjudul
“Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer, Jr. dkk (1995), menyatakan bahwa di
masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan yaitu guru sebagai:
pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin, pembelajar,
dan pengarang. Sebagai pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang
sebesar-besarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya
sendiri sesuai dengan kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan
prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak memberikan satu cara yang mutlak.
Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah
raga, di mana pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan,
sementara dalam permainan itu sendiri para pemain akan mengembangkan
kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan kondisi yang ada. Sebagai konselor,
guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajar-mengajar, di mana
siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang kondusif
dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Disamping itu, guru diharapkan mampu
memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal.
Sebagai manajer pembelajaran, guru
memiliki kemandirian dan otonomi yang seluasluasnya
dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan
mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran. Sebagai partisipan,
guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga berperilaku belajar dari
interaksinya dengan siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru bukanlah
satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi ia sebagai fasilitator
pembelajaran siswa. Sebagai pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang
yang mampu menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan
bersama. Disamping sebagai pengajar, guru harus mendapat kesempatan untuk
mewujudkan dirinya sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan
lain di luiar mengajar. Sebagai pembelajar, guru harus secara terus menerus
belajar dalam rangka menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas
profesionalnya. Sebagai pengarang, guru harus selalu kreatif dan inovatif
menghasilkan berbagai karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas
profesionalnya.
Guru yang mandiri bukan sebagai tukang
atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang baku, melainkan
sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya inovatif
dalam bidangnya. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang
tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Peran TIK dalam dunia pendidikan
mempunyai pengaruh yang cukup berarti terhadap dunia pendidikan khususnya
proses dan hasil pembelajaran, beberapa mamfaat yang diperoleh dengan adanya
TIK :
1. Memberikan kemudahan terhadap dunia pendidikan dalam
pencapaian tujuan pendidikan nasional Indonesia secara umum.
2. Meningkatkan mutu pendidikan karena dengan TIK dapat
dengan mudah menerima informasi baik dari dalam maupun dari luar negeri .
3. TIK telah memungkinkan terjadinya individuasi,
akselerasi, pengayaan, perluasan, efektivitas dan produktivitas pembelajaran
yang pada gilirannya akan meningkatkan kualitas pendidikan sebagai
infrastruktur pengembangan sumber daya manusia secara keseluruhan.
Semua hal itu tidak akan terjadi dengan
sendirinya karena setiap individu memiliki kondisi yang berbeda antara satu
dengan lainnya. Siswa memerlukan bimbingan baik dari guru maupun dari orang
tuanya dalam melakukan proses pembelajaran dengan dukungan TIK. Dalam kaitan
ini guru memegang peran yang amat penting dan harus menguasai seluk beluk TIK
dan yang lebih penting lagi adalah kemampuan memfasilitasi pembelajaran anak
secara efektif.
DAFTAR PUSTAKA
·
PUSTEKKOM,
2006, “Teknologi Informasi dan Komunikasi (Information Communication
Technology)”.
·
Makalah
dalam Seminar ”Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan
Jarak Jauh dalam Rangka Peningkatan Mutu Pembelajaran”, diselenggarakan oleh
Pustekkom Depdiknas, tanggal 12 Desember 2006 di Jakarta.
·
Sudjana,
Nana dan Rivai, Ahmad, (1989), Teknologi Pengajaran, Sinar Baru Bandung
·
Khoerul
Akmal, S.Pd,(2008), makalah tentan “Kecenderungan Global Dalam Pemamfaatan
Teknologi Informasi dan Komunikasi Untuk Pendidikan di Indonesia”.
·
“Reinventing Education”, Louis V. Gerstmer,
Jr. dkk (1995).
·
Rosenberg
(2001), Lima pergeseran dalam proses pembelajaran InSearch, Universitas
Informatika dan Bisnis Indonesia - 9 of 9. http://insearch.
No comments:
Post a Comment